GEJALA PSIKOLOGI DALAM KEBERAGAMAAN

Posted on
GEJALA
PSIKOLOGI DALAM KEBERAGAMAAN
Contoh  Makalah Materi : Psikologi Islam 



A.   
PENDAHULUAN
Psikologi Islam sebagai sebuah aliran
baru dalam dunia psikologi mendasarkan seluruh bangunan teori-teori dan konsep-konsepnya
kepada Islam. Islam sebagai subjek dan objek kajian dalam ilmu pengetahuan
harus dibedakan kepada tiga bentuk yakni Islam sebagai ajaran, Islam sebagai
pemahaman dan pemikiran serta Islam sebagai praktek atau pengalaman. Islam
sebagai ajaran bersifat universal dan berlaku pada semua tempat dan waktu dalam
bahasa Muhammad Arkoun salih likulli makan wa zaman (berlaku dalam
setiap waktu dan tempat). Kecuali itu, Islam sebagai ajaran juga bersifat
absolut dan memiliki kebenaran normatif yaitu benar berdasarkan pemeluk agama
tersebut. Jadi bebas ruang dan waktu. Sementara islam sebagai pemahaman dan
praktek selalu berhubungan dengan ruang dan waktu. Sehingga bersifat
partikular, lokal dan temporal. Pada gilirannya menciptakan perbedaan berdasarkan
waktu dan tempat.


Hakikat psikologi Islam dapat dirumuskan
sebagai suatu kajian Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan perilaku
kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih
sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.


B.    
PERMASALAHAN
Berdasarkan uraian di atas, kami
mengambil dua permasalahan sebagai berikut:
1.     
Bagaimanakah
gejala psikologi dalam keberagamaan?
2.     
Bagaimanakah
tinjauan gejala psikologi
dalam
menjalankan ibadah
puasa?
C.  PEMBAHASAN
1. Gejala
Psikologi dalam Keberagamaan
Keberagamaan dalam pelaksanaannya
merupakan gejala yang terbentuk dari berbagai unsur, dimana antara satu dengan
yang lainnya berkaitan untuk melahirkan satu kesatuan pengalaman yaitu
pengalaman beragama. Joachim Wach dalam bukunya yang berjudul The
Comparative Study of Religions
mengatakan bahwa pengalaman beragama
merupakan respons terhadap sesuatu yang diyakini sebagai Realitas Mutlak,
kemudian diungkapkan dalam bentuk pemikiran, perbuatan dan komunitas kelompok.
Sedangkan menurut al-Asy’ary adalah respons yang terungkap dalam pembenaran
hati, pernyataan lisan, dan perbuatan praktis.[1]
Dengan demikian, agama atau beragama baru hadir dalam diri manusia jika sudah
terjalin hubungan antara dua pihak, yakni manusia yang memberi respons dan
pranata yang diyakini datang dari Tuhan.



Agama menyangkut kehidupan batin
manusia. Oleh karena itu kesadaran agama dan pengalaman agama seseorang lebih
menggambarkan sisi-sisi batin dalam kehidupan yang ada kaitannya dengan sesuatu
yang sakral dan dunia gaib. Dari sini, muncul sikap keagamaan dalam diri
seseorang yang mendorong untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya
terhadap agama.
[2]

Sikap keagamaan tersebut adalah wujud
dari adanya komponen-komponen psikologis yang mencakup kognisi, afeksi, dan
konasi. Komponen kognisi akan menjawab tentang apa yang dipikirkan atau
dipersepsikan tentang obyek. Dalam hal ini nafslah alat utama pengetahuan,
bukan alat indera. Nafs menafsirkan pengalaman inderawi secara aktif. Tidak
semua stimulus (sentuhan yang dapat merangsang aktivitas inderawi) kita terima.
Perilaku manusia bukan sekedar respon pada stimulus, tetapi produk dari
berbagai gaya yang mempengaruhinya secara spontan. Perilaku adalah hasil
interaksi antara individu dengan lingkungan nafsiologisnya.


Komponen afeksi dikaitkan dengan apa
yang dirasakan terhadap obyek. Setelah orang melaksanakan evaluasi kognitif,
maka komponen afektif melakukan penilaian emosional, yang dapat bersifat
positif atau negatif. Dari evaluasi afektif ini muncul perasaan senang atau
tidak senang. Sedangkan komponen konasi yang menentukan kesiapan jawaban berupa
tingkah laku tehadap objek.[3]
Ketiga komponen tersebut tidak berdiri
sendiri, melainkan merupakan interaksi yang kompleks. Kekuatan iman berfungsi
mengkoordinasi ketiga komponen itu dalam interaksi yang harmonis, sehingga
tingkah laku seseorang ditandai oleh adanya iman. Prinsip dari tingkah laku
manusia manusia beriman adalah konfigurasi motif, sifat dan nilai yang sesuai
dengan kehendak ilahi.[4]
Sejalan dengan itu, bisa dikatakan bahwa motivasi merupakan daya dorong untuk
melakukan sesuatu. Dan diantara daya dorong tersebut adalah bersumber dari
upaya untuk memenuhi kebutuhan jiwa. Dan kebutuhan jiwa yang utama adalah
ibadah, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi utama manusia dalam bertingkah
laku adalah ibadah.[5]


2.   
Tinjauan
Gejala Psikologi
dalam
menjalankan ibadah
puasa
Dari pembahasan di atas dikatakan bahwa
kebutuhan jiwa yang utama adalah beribadah, sebagaimana yang terdapat dalam
surat adz-Dzariat ayat 56:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur
žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9
ÇÎÏÈ
Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariat: 56)
Tugas ibadah ini berhubungan erat dengan
tugas sebagai khalifah. Ibadah sebagai implementasi hubungan vertikal merupakan
wujud dari ketundukan dan kepatuhan seorang hamba kepada sang kholik. Salah
satu bentuk ibadah tersebut adalah puasa.


Puasa merupakan salah satu bentuk
pengabdian dan cara mendekatkan diri pada Allah SWT yang pada dasarnya adalah
pekerjaan ruhani, sekalipun dalam pelaksanaannya melibatkan perbuatan jasmani,
kejiwaan dan sosial.
Dalam ilmu Al-Qur’an kontemporer, puasa
yang menjadi bagian dari ritual keagamaan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, di
kategorikan salah satu mukjizat Al-Qur’an yang tersingkap setelah berkembangnya
ilmu pengetahuan modern.
Menurut Glock
dan Stark (Robertson, 1988) ada lima macam dimensi keberagamaan, yaitu:[6]
Pertama,
dimensi keyakinan, yang berisi pengharapan-pengharapan dimana orang
religius
berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan
mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Dalam hal ini orang yang berpuasa
berusaha menafsirkan ayat yang terdapat dalam al-Quran suratal-Baqarah ayat
183.
$yg•ƒr¯»tƒ
tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6ø‹n=tæ ãP$u‹Å_Á9$#
$yJx.
|=ÏGä. ’n?tã
šúïÏ%©!$#
`ÏB
öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs?
ÇÊÑÌÈ
 
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Kedua,
Dimensi praktik agama yang mencangkup perilaku pemujaan, ketaatan dan
hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen
terhadap agama yang dianutnya. Setelah tahap penafsiran orang tersebut berusaha
menjalankan puasa sebagai praktik agama.


Ketiga,
Dimensi pengalaman, d
imensi ini adalah bagian dari
keberagamaan yang berkaitan dengan perasaan keagamaan seseorang
. Dalam hal ini seseorang yang telah menjalankan
ibadah puasa
merasakan nikmat dan bahagia ketika
memasuki bulan Ramadlan.


Keempat
dimensi pengetahuan agama yang mengacu pada harapan bahwaorang yang beragama
paling tidak memiliki pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan. Seseorang
yang berpuasa paling tidak harus mengetahui dasar-dasar pengetahuan tentang
agama . misalnya mengenai syarat-syarat, hal-hal yang membatalkan puasa, dan
lain-lain.


Kelima,
dimensi pengamalan atau konsekuensi. Dimensi ini mengacu pada identifikasi
akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan
seseorang. Bila tindak puasa kita telaah dan kita renungkan akan banyak
sekali hikmah dan manfaat psikologinya. Diantaranya yaitu
puasa mengandung falsafat hidup yang luhur dan mantap. Puasa akan memberi
pengaruh positif terhadap rasa (emosi), cipta (rasio), karsa (will, karya
(performance), bahkan kepada ruh kita apabila rukun syaratnya dipenuhi dan
dilakukan dengan penuh sabar dan ikhlas.[7]


Az Zarqani menuturkan bahwa puasa
memiliki tiga dimensi sekaligus. Tiga dimensi utama tersebut adalah sisi
kejiwaan (ruhiyyah; religion psychological) yang bersifat transenden,
privat, dan tidak terkait dengan hubungan sosial. Kedua, dimensi moral
(akhlaqiyyah)
yang meliputi pendidikan dan pembiasaan kedisiplinan,
ketaatan, kepatuhan dan lain sebagainya. Dimensi kedua inilah yang menjadikan
puasa memiliki nilai sosial. Terakhir, dimensi kesehatan yakni dengan berpuasa
dapat memperbaiki kualitas fisis, medis, dan biologis seseorang.[8]
D.   
ANALISA
Dalam pembahasan di atas, dapat
diketahui bahwa gejala psikologi sangat berpengaruh besar dalam keberagamaan
seseorang. Dan tidak semua stimulus harus diterima oleh indera. Namun dalam
realitasnya banyak orang yang menelan stimulus secara mentah-mentah tanpa diproses
melalui filter berupa agama. Misalnya, ketika sedang berjalan-jalan melewati
perkebunan mangga jika stimulus itu ditelan secara mentah-mentah pasti  bagi orang yang menginginkan mangga dan tidak
mepunyai pengetahuan tentang agama pasti akan langsung mengambil mangga
tersebut tanpa mempedulikan mangga itu milik siapa?, tanpa mempedulikan status halalan
thoyyibah.
Berdasarkan nilai dan norma yang dianalisis melalui jalur iman,
dalam hal ini seseorang yang memiliki iman tidak akan mengambil mangga tersebut
tanpa izin dari pemilik mangga. Degan adanya iman akan terjadi interaksi yang
harmonis antara ketiga komponen (kognisi, afeksi, dan konasi).


Keberagamaan merupakan suatu respon
terhadap realitas mutlak yang diwujudkan dalam bentuk tingkah laku yang kami
contohkan dalam hal ini adalah puasa. Menurut teori di atas munculnya perilaku
puasa merupakan wujud dari kesadaran beriman terhadap sesuatu yang dianggap
sebagai realitas mutlak. Namun kenyataannya masih banyak dari manusia yang
menganggap ibadah itu hanya formalisme belaka sebagai orang yang beragama Islam
misalnya diwajibkan untuk berpuasa.
E.    
KESIMPULAN
1.     
Gejala
psikologi dalam keagamaan merupakan suatu wujud dari adanya komponen-komponen
psikologis yang mencakup kognisi, afeksi, dan konasi. Komponen kognisi akan
menjawab tentang apa yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang obyek. Komponen
afeksi dikaitkan dengan apa yang dirasakan terhadap obyek. Setelah orang
melaksanakan evaluasi kognitif, maka komponen afektif melakukan penilaian
emosional, yang dapat bersifat positif atau negatif. Sedangkan komponen konasi
itu yang menentukan kesiapan jawaban berupa tingkah laku tehadap objek.


2.     
Tinjauan
psikologi
dalam menjalankan puasa
adalah wujud dari kecerdasan emosional. Sebagaimana kita tahu, puasa adalah
arena melatih pengendalian diri yang sempurna dalam hal makan, yang menjadi
kebutuhan penting bagi setiap orang.
F.    
PENUTUP


Demikianlah makalah yang dapat kami
sajikan. Kami sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami
butuhkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pemakalah pada khususnya dan
pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
A, Muslim. Kadir. Ilmu Islam Terapan;
Menggagas Paradigma Amali dalam Agama Islam.
Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
2003.
Baharuddin. Paradigma
Psikologi Islami: Studi tentang Elemen Psikologi dari al-Qur’an.
Pustaka
Pelajar: Yogyakarta. 2004

Djamaluddin
Ancok dan Fuad Nashori Suroso. Psikologi Islami: Solusi Islam atas
Problem-problem Psikologi.
Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 2005.
Djumhana, Hanna Bastaman. Integrasi Psikologi dengan Islam:
Menuju Psikologi Islami.
Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 1997.
Forum
KALIMASADA. Kearifan Syariat: menguak Rasionalitas Syariat dari Perspektif
Filosofis, Medis dan Sosiohistoris.
Khalista: Surabaya. 2009.
Jalaluddin. Psikologi Agama. PT
Raja Grafindo Persada: Jakarta. 2002.
Sukanto dan Dardiri Hasyim. Nafsiologi:
Refleksi Analisis Tentang Diri dan Tingkah Laku Manusia.
Risalah Gusti:
Surabaya. 1995.



[1] Muslim A. Kadir. Ilmu Islam
Terapan; Menggagas Paradigma Amali dalam Agama Islam.
Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
2003. Hal 119
[2] Jalaluddin. Psikologi Agama.
PT Raja Grafindo Persada: Jakarta. 2002. Hal 197
[3] Sukanto dan Dardiri Hasyim.
Nafsiologi: Refleksi Analisis Tentang Diri dan Tingkah Laku Manusia.

Risalah Gusti: Surabaya. 1995. Hal 158-159
[4] Ibid. 161
[5] Baharuddin. Paradigma
Psikologi Islami: Studi tentang Elemen Psikologi dari al-Qur’an.
Pustaka
Pelajar: Yogyakarta. 2004. Hal 252.
[6] Djamaluddin Ancok dan Fuad
Nashori Suroso. Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem
Psikologi.
Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 2005. Hal 77-78
[7] Hanna Djumhana Bastaman. Integrasi
Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islami.
Pustaka Pelajar:
Yogyakarta. 1997. Hal 181
[8] Forum KALIMASADA. Kearifan
Syariat: menguak Rasionalitas Syariat dari Perspektif Filosofis, Medis dan
Sosiohistoris.
Khalista: Surabaya. 2009. Hal 250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *