Peranan Pendidikan Islam Sebagai Sarana Membumikan Nilai-Nilai Al-Qur’an dalam Masyarakat

Posted on
Peranan
Pendidikan Islam Sebagai Sarana Membumikan Nilai-Nilai Al
Qur’an dalam Masyarakat
TOPIK : MEMBUMIKAN AL QURAN

I.                  
PENDAHULUAN
Membumikan
Al qur’an adalah merupakan upaya untuk menjadikan Al qur’an itu sendiri menjadi
dekat dalam kehidupan sehari-hari dan melekat di hati khalayak khususnya kaum
muslimin yang telah mengakudirinya sebagai orang islam. Di antara fungsi
al-Qur’an adalah sebagai petunjuk, penerang jalan hidup, pembeda antara yang
benar dan salah, penyembuh penyakit hati, nasihat atau petuah dan sumber
informasi.
Tuntunan
dan anjuran untuk mempelajari al-Qur’an dan menggali kandungannya serta menyebarkan
ajaran-ajarannya dalam praktek kehidupan masyarakat merupakan tuntunan yang tak
akan pernah habis. Menghadapi tantangan dunia modern yang bersifat sekuler dan
meterialis, banyak masyarakat islam yang jauh dan asing dengan kitab sucinya
sehingga umat Islam dituntut untuk menunjukkan bimbingan dan ajaran al-Qur’an
yang mampu memenuhi kekosongan nilai moral kemanusiaan dan spiritualutas, di
samping membuktikan ajaran-ajaran al-Qur’an yang bersifat rasional dan
mendorong umat manusia untuk mewujudkan kemajuan dan kemakmuran serta
kesejahteraan.
Poin
utama dalam karya ilmiah ini adalah mencari upaya yang sungguh-sungguh agar
pendidikan islam menjadi pilihan utama bagi masyarakat dalam mencerdaskan dan
mendekatkan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dalam kehidupan bangsa.
Mencerdaskan akal pikiran dan sekaligus mencerdaskan Qalbu merupakan langkah
yang sangat efektif dalam membangun bangsa yang saat ini memerlukan
generasi-generasi memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual.
Kedua kecerdasan ini hanya akan di peroleh bilamana lembaga pendidikan menggali
dan menyelami nilai-nilai yang diajarkan al-Qur’an dalam membangun
generasi-generasi yang berkualitas dengan cara membumisasikan nilai-nilai
Qur’ani dalam sistem pendidikan Islam.
Maka
dari itu pendidikan Islam menjadi sangat berperan sebagai sarana yang paling
efektif untuk membumikan nilai-nilai al-Qur’an di dalam masyarakat, seiring
dengan perkembangan ideologi-ideologi dari barat yang semakin lama semakin
mengikis habis beradaban dan ilmu-ilmu Islam,dan menjauhkan orang-orang Islam
itu sendiri jauh dari al-Qur’and dan bahkan merasa asing dengan al-Qur’an itu
sendiri sebagai tuntunan dan pedoman hidupnya.


II.               
RUMUSAN
MASALAH
Dari
pendahuluan diatas, maka mencullah beberapa rumusan masalah yang akan kami
dibahas dalam karya ilmiyah ini, sebagai berikut:
1.      Bagaimana syarat dan makna
membumikan nilai-nilai al-Qur’an

dalam masyarakat melalui pendidikan islam
?
2.      Apa tujuan dan strategi pendidikan islam
dalam membumikan al-Qur’an?
3.      Bagaimanakah peranan pendidikan Islam
dalam membumikan nilai-nilai al-Qur’an?
III.            
PEMBAHASAN
1.     
Syarat
dan Makna Membumikan Nilai-Nilai Al-Qur’an
dalam
Masyarakat Melalui Pendidikan Islam
Ungkapan
“membumikan al-Qur’an” sehingga karenanya perlu dibumikan. Dalam makna
metaforiknya, perkataan “membumikan al-Qur’an” mengisyaratkan jauhnya al-Qur’an
dari  kenyataan kehidupan yang kita
hadapi. Padahal idealnya al-Qur’an itu dekat dengan kehidupan kita saat
ini.akan tetapi pada kenyataannya yang diterapkan hanya 5% saja dari al-Qur’an,
padahal seharusnya 100% al-Qur’an harus diterapkan. Untuk dapat mewujudkan
kondisi ideal ini, di perlukan upaya konkrit yang mendasar berupa aktivitas
memahami dan menerapkan al-Qur’an itu kedalam realitas yang ada. Memahami
adalah aktivitas yang pertama, sedang buahnya adalah penerapan dalam kenyataan.
Berangkat dari sini maka membumikan al-Qur’an dapat di beri arti sebagai upaya
memahami dan menerapkan al-Qur’an secara sempurna dalam realitas melalui sistem
pendidikan Islam.[1]
Dalam
Islam keimanan adalah adalah sebuah realitas yang jauh lebih dari sekedar
pemahaman, akan tetapi juga kehendak hati, kepasrahan, kerendahan hati, sebuah
tindakan dan cinta. Seorang astronom mengetahui bintang-bintang, tetapi dia
tidak punya dan kecenderungan terhadap bintang-bintang itu, seorang ahli
mineral tidak pasti memiliki perasaan terhadap tambang dan mineral, begitu juga
dengan orang-orang yang mengerti dan paham tentang isi dan kandungan
al-Qur’an, akan tetapi tidak
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.[2]
Orang-orang
shalih menjadikan  al-Qur’an sebagai
pemurni nurani-nurani mereka dan menjadi penghiasnya, maka orang-orang yang
mengamalkan al-Qur’ansemakin gembira hatinya, bertambah rasa syukur dan
kwalitas taqwanya.
[3]
Membumikan al-Qur’an adalah upaya memahami dan manerapkan
al-Qur’an secara sempurna dalam realitas. Dari sini dapat dirumuskan bahwa
syarat
untuk membumikan al-Qur’an ada 2 :
Pertama adanya pemahaman yang shahih terhadap al-Qur’an. Pemahaman yang
shahih terhadap al-Qur’an diperoleh dengan mempelajari al-Qur’andengan
perangkat-perangkat ilmu-ilmu keislaman yang bertolak dari Aqidah Islamiyah
(tsaqofah Islamiyah). Misalnya ilmu tafsir, ilmu hadits, bahasa Arab dan
sebagainya.
Kedua adanya penerapan yang shahih terhadap al-Qur’an, yaitu penerapan
melalui institusi negara (Daulah Khilafah Islamiyyah) sebab hanya dengan
institusi inilah penerapan al-Qur’an secara sempurna akan dapat diwujudkan.[4]

Sedangkan Negara yang ada sekarang, sesungguhnya tidaklah mampu memikul tugas
menerapkan al-Qur`an secara paripurna, sebab negara republik yang ada sekarang
tidak diciptakan untuk mengabdi kepda Islam. Sehingga penerapan al-Qur`an
hanya dijadikan sebatas urusan pribadi, bukan urusan publik atau urusan
Negara
. Kalaupun dijadikan urusan negara, itu pun terbatas
pada masalah-masalah  ibadah mahdhah seperti ibadah haji, atau muamalah
sempit seperti hukum keluarga seperti nikah, talak, cerai, rujuk, dan waris.
2.     
Tujuan
dan Strategi Pendidikan Islam
Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan
pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu
untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepada Nya,
dan dapatmencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan akhirat. Dalam konteks
sosiologi probadi yang bertakwa menjadi rahmatan lil’alamin, baik dalam skala
kecil maupun besar. Tujuan hidup manusia dalam Islam inilah yang dapat disebut
juga sebagai tujuan akhir pendidikan Islam.
Tujuan
khusus yang lebih spesifikmenjelaskan apa yang ingin dicapai melalui pendidikan
pendidikan Islam. Sehingga konsep pendidikan Islam jadinya tidak sekedar
idealisasi ajaran-ajaran Islam dalam bidang pendidikan. Dengan kerangka tujuan
ini dirumuskan harapan-harapan yang ingin dicapai di dalam tahap-tahap tertentu
proses pendidikan, sekaligus dapat pula dinilai hasil-hasil yang telah dicapai.
Menurut
Abdul Fatah Jalal, tujuan umumpendidikan Islam ialah terwujudnya manusia
sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh
manusia yang menghambakan kepada Allah. Yanmg dimaksud menghambakan diri adalah
beribadah kepada Allah. Karena sebagian orang mengira bahwa ibadah itu terbatas
pada menunaikan shalat, puasa pada bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, ibadah
haji, srerta mengucaokan syahadat. Tetapi sebenarnya ibadah itu mencakup semua
amal, pikiran, dan perasaan yang dihadapkan (atau disandarkan) kepada Allah.
Aspek ibadah merupakan kewajiban orang islam untuk mempelajarinyaagar ia dapat
mengamalkan nya dengan cara yang benar, dengan menjadikan al-  qur’an dan hadits sebagai sumber utama dan
pedoman hidup.
 Ibadah adalah jalan hidup yang mencakup
seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan,
perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan Allah SWT.[5]
Pendidikan
Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis yang
bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter Islam dan menyempurnakan
akhlaknya, yakni: Pertama, berkepribadian Islam atau berwatakkan
islam. Ini sebetulnya merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim. Intinya,
seorang Muslim harus memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir (‘aqliyyah)
dan pola jiwa (nafsiyyah) yang berpijak pada aqidah Islam.
Untuk mengembangkan
kepribadian Islam, paling tidak, ada tiga langkah yang harus ditempuh,
sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Saw, yaitu:
  1. Menanamkan aqidah Islam kepada
    seseorang dengan cara yang sesuai dengan kategori aqidah tersebut, yaitu
    sebagai ‘aqîdah ‘aqliyyah; aqidah yang muncul dari proses pemikiran
    yang mendalam.
  2. Menanamkan sikap konsisten dan istiqâmah
    pada orang yang sudah memiliki aqidah Islam agar cara berpikir dan
    berprilakunya tetap berada di atas pondasi aqidah yang diyakininya.
  3. Mengembangkan kepribadian Islam
    yang sudah terbentuk pada seseorang dengan senantiasa mengajaknya untuk
    bersungguh-sungguh mengisi pemikirannya dengan tsaqâfah islâmiyyah dan
    mengamalkan ketaatan kepada Allah SWT.
Kedua,
menguasai
tsaqâfah Islam. Islam telah mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut
ilmu.
Ketiga,
menguasai
ilmu kehidupan (IPTEK). Menguasai IPTEK diperlukan agar umat Islam mampu
mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai
khalifah Allah di muka bumi dengan baik. Islam menetapkan penguasaan sains
sebagai fardlu kifayah, yaitu jika ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat,
seperti kedokteran, kimi, fisika, industri penerbangan, biologi, teknik, dll.
Keempat,
memiliki keterampilan yang memadai. Penguasaan
ilmu-ilmu teknik dan praktis serta latihan-latihan keterampilan dan keahlian
merupakan salah satu tujuan pendidikan Islam, yang harus dimiliki umat Islam
dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT.
Sebagaimana
penguasaan IPTEK, Islam juga menjadikan penguasaan keterampilan sebagai fardhu
kifayah, yaitu jika keterampilan tersebut sangat dibutuhkan umat, seperti
rekayasa industri, penerbangan, pertukangan, dan lainnya.[6]
Strategi Pendidikan
Islam
            Strategi
pendidikan berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai. Seorang guru yang
mengajarkan ilmu pengetahuan dengan tujuan agar siswa mendapat suatu
pengetahuan yang bersifat kognitif, dengan menggunakan strategi pembelajaran
yang efektif yaitu strategi yang dapat membuat siswa menjadi lebih aktif sejak
memulai pelajaran sampai selesai.[7]
            Dengan demikian, kendali pembelajaran bukan berada dalam
kendali guru atau pendidik seutuhnya. Guru hanya sebagai fasilitator. Dengan
suasana pembelajaran seperti ini, siswa akan banyak terlibat secara aktif,
otomatis siswa tidak akan merasa bosan dan mudah serta mengamalkannya.
Jenis-jenis Strategi
Pendidikan
Secara
umum, ketika dilihat dari segi penekanannya, strategi pendidikan dapat dibagi
menjadi tiga:
a.      
Strategi
belajar mengajar yang berpusat pada guru
b.     
Strategi
belajar mengajar yang berpusat pada peserta didik
c.      
Strategi
belajar mengajar yang berpusat pada materi pengajaran
Secara khusus, para pakar membagi
strategipembelajaran pada jenis-jenis yang banyak sekali, diantaranya: strategi
kontekstual, strategi pembelajaran afektif, strategi pembelajaran kooperatif,
strategi pembelajaran berbasis masalah, strategi pembelajaran ekspositori,
strategi pembelajaran inkuiri.[8]
3.     
Peranan
Pendidikan Islam Dalam Membumikan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Peranan
pendidikan dalam pengembangan kualitas sumber daya insani secara mikro, sebagai
proses belajar mengajar yaitu: sebagai alih pengetahuan (transfer knowledge),
alih metode (transfer of methodology), dan alih nilai (transfer of
value)
.[9]
 Fungsi pendidikan sebagai alih pengetahuan
dapat di tinjau dari teori “human capital”, bahwa pendidikan tidak di pandang
sebagai barabng konsumsi belaka tetapi juga sebagai sebuah investasi. Hasil
investasi ini berupa tenaga kerja yang mempunyai kemampuan untuk menerapkan
pengetahuan dan ketrampilannya dalam proses produksi dan pembangunan pada
umumnya. Dalam kaitan ini proses alih pengetahuan dalam rangka pembinaan ilmu
pengetahuan dan teknologi untuk berkembangnya manusia pembangunan. Dengan
ilustrasi yang serupa, proses alih pengetahuan ini juga berperan pada proses
pembudayaan dan pembinaan iman, takwa dan akhlak mulia.[10]Dengan
kata lain membangun fondasi terlebih dahulu (tauhidnya), sebelum mendirikan
bangunan (cabang-cabang iman yang lain). Mendahulukan hal yang terpenting
barulah disusul hal-hal yang penting.[11]
Di
lihat dari sejarah peranan pendidikan Islam pada masa walisongo pengaruhnya pun
masih terlihat sampai saat ini, salah satunya pendidikan pesantren yang
mula-mula dirintis oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah suatu model
pendidikan Islam yang dipakai oleh pendeta dan biksudalam mengajar dan
berlajar. Oleh sebab itu pendidikan islam di masa itu memakai mandala-mandala Hindu-Budha
dalam rangka untuk membumikan al-Qur`an dalam masyarakat yang saat itu budaya Hindu-Budha
sudah sangat membudaya dan turun temurun.[12]
Sehingga dalam alih pengetahuan pada masa itu menyesuaikan budaya pada saat itu
untuk membangun masyarakat Qur’ani.
Fungsi
pendidikan sebagai sarana alih metode terutama sangat berperan pada
pengembangan kemampuan penerapan teknologi dan profesionalitas seseorang.
penguasaan teknologi dalam sistem pembelajaran informasi merupakan sesuatu yang
harus dikuasai oleh pendidikan agama. Menguasai peluang atau manejemen masa
depan diharuskan dapat mengetahui dan menguasai informasi. Menguasai teknologi
dan informasi sama artinya dengan menguasai masa depan. Tegasnya penguasaan
teknologi dan informasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pendidikan agama
masa depan.[13]Ketika
anak didik dengan pendidikan yang baik yang mengembangkan potensi atau
kecenderungan yang baik maka dia akan menjadi baik, akan tetapi sebaliknya jika
dia di didik dengan pendidikan yang cenderung mengembangkan potensi jahatnya
maka dia akan menjadi orang jahat.[14]
Fungsi
pendidikan sebagai proses alih nilai,
secara makro mempunyai tiga sasaran. Pertama,
bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang mempunyai
keseimbangan antara kemampuan kognitif dan psikomotor di satu pihak serta
kemampuan afektif di pihak lain. Kedua,
dalam sistem ini nilai yang dialihkan juga termasuk nilai-nilai keimanan,
ketaqwaan, dan akhlak mulia
yang
senantiasa menjaga harmonisasi hubungan dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan
dengan alam sekitarnya. Ketiga, dalam
alih nilai juga dapat ditransformasikan tata nilai yang mendukung proses
industrialisasi dan penerapan teknologi, seperti; penghargaan akan waktu,
disiplin , etos kerja, kemandirian , kewirausahaan, dan sebagainya. Pembinaan
iman, takwa dan akhlak mulia serta pembudayaan pada dasarnya meliputi pembinaan
tentang keyakinan, sikap, perilaku, dan akhlak mulia serta nilai-nilai luhur
budaya bangsa. Semua aspek kehidupan tersebut dapat berkembang apabila ada
pemahaman, wawasan keagamaan dan budaya yang di perolehdari proses alih
pengetahuan, serta internalisasi nilai-nilai al-Qur’an dan budaya yang di
peroleh dari proses alih nilai.[15]
 
Sehingga pendidikan yang
berlandaskan nilai-nilai al-Qur`an akan memegang peranan signifikan dalam
memperkokoh ketahanan rohani umat manusia. Jika pendidikan al-Qur`an terus di
kembangkan secara berkesinambungan, maka nilai-nilai al-Qur`an akan mampu
mendampingi bangsa Indonesia dalam melukis sejarah dengan tinta emas
pengetahuan. Atas dasar itu menjadi kewajiban bagi seluruh komponen bangsa,
khususnya pendidikan agama, pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam dan
lainnya untuk terus memasyarakatkan al-Qur`an dengan menekatkan pada pendalaman
isi serta kandungan yang sudah tentu dimulai dengan kemampuan membaca
al-Qur`an. Dalam hubungan ini peranan masyarakat, khususnya lembaga pendidikan
al-Qur`an ormas Islam dan para ulama serta pemuka masyarakat pada umumnya ikut
menentukan bagi tercapainya tujuan tersebut.
IV.            
KESIMPULAN
·                    Syarat
yang harus di penuhi untuk membumikan al-Qur’an ada dua,
Pertama adanya pemahaman yang shahih terhadap
al-Qur’an
, Kedua
adanya penerapan yang shahih terhadap al-Qur’an
,
sehingga al-Qur’an tidak lagi asing dalam kehidupan bermasyarakat.
Makna dari membumikan
al-Qur’an itu sendiri adalah menurunkan al-Qur’an yang masih melangit,
mengisyaratkan bahwa jauhnya al-Qur’an dari kenyataan kehidupan yang kita
hadapi. Padahal idealnya al-Qur’an itu dekat dengan kehidupan kita saat ini.
·                   
Tujuan
utama pendidikan islam ialah untuk menjadikannya selaras dengan tujuan utama
manusia menurut Islam , yakni beribadah kepada Allah, yang mencakup seluruh
aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan,
perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan Allah SWT diantaranya
Pertama,
membentuk pribadi yang berkarakter Islam Kedua, menguasai tsaqâfah
Islam Ketiga, menguasai ilmu kehidupan (IPTEK) Keempat,
memiliki keterampilan yang memadai.
Strategi pendidikan
berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai. Seorang guru yang mengajarkan
ilmu pengetahuan dengan tujuan agar siswa mendapat suatu pengetahuan yang
bersifat kognitif, dengan menggunakan strategi pembelajaran yang efektif yaitu
strategi yang dapat membuat siswa menjadi lebih aktif sejak memulai pelajaran
sampai selesai, sehingga strategi dalam proses pembelajaran menjadi sangat
penting dalam menanamkan nilai-nilai al-Qur’an dalam diri siswa.
·                   
Peranan
pendidikan dalam pengembangan kualitas sumber daya insani secara mikro, sebagai
proses belajar mengajar yaitu: sebagai alih pengetahuan (transfer knowledge),
alih metode (transfer of methodology), dan alih nilai (transfer of
value).
Jadi, peranan pendidikan islam menjadi sangatlah penting dalam
menentukan terwujudnya masyarakat yang Qur’ani, yang menjadikan al-Qur’an
benar-benar sebagai pedoman hidupnya.
Demikian
karya ilmiyah yang kami susun. kritik, dan saran yang membangun sangat kami
harapkan untuk kesempurnaan karya ilmiyah selanjutnya. Akhir kata, semoga karya
ilmiyah kami dapat bermanfaat bagi pembaca. Amin
DAFTAR PUSTAKA
Murtadha Muthahhari.
2005. Potret Insan Kamil Meneropong Karakteristik Manusia Sempurna. Bina
Media: Yogtakarta.
Syekh
Abdullah bin Umar al-Haddad. 2007. Misteri Ajaran Ma’rifat Ilmu Sejati. Mitrapress
.
Mansyur . 1996. Strategi
belajar mengajar
. Penerbit Depag
Nata, Abuddin.
2009. Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran. Kencana:  Jakarta.
Said Agil Husain
Al Munawar. 2005.  Aktualisasi
Nilai-Nilai Qur’ani Dalam Sistem 
Pendidikan  Islam
. PT. Ciputat
Press: Ciputat.
Maftuh Ahnan,
dkk.2011. Menghindari Bahaya Riya’ (Pamer Amal). Delta Prima Press.
Ridin Sofwan,
dkk. 2000.Islamisasi di jawa. Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI):
Yogyakarta.
Juwariyah. 2010.
Hadis tarbawi.Teras: Yogyakarta.
http://www.gaulislam.com/membumikan-al-Qur’an,
24/08/20013
http: //www.Abinehanafi.blogspot.com



[1]http//www.gaulislam.com/membumikan-al-Qur’an, 24/08/20013
[2]Murtadha Muthahhari.
2005. Potret Insan Kamil Meneropong Karakteristik Manusia Sempurna. Bina
Media: Yogtakarta. hlm. 67
[3]Syekh
Abdullah bin Umar al-Haddad. 2007. Misteri Ajaran Ma’rifat Ilmu Sejati.
Mitrapress.
Hlm.165
[4]http//www.gaulislam.com/membumikan-al-Qur’an, 24/08/20013
[5] http: //www.Abinehanafi.blogspot.com
[7] Mansyur
. 1996. Strategi belajar mengajar. Penerbit Depag. Hlm. 26
[8] Nata, Abuddin. 2009. Perspektif
Islam Tentang Strategi Pembelajaran
. Kencana:  Jakarta. Hlm. 42
[9] Said Agil Husain Al
Munawar. 2005.  Aktualisasi
Nilai-Nilai Qur’ani Dalam Sistem 
Pendidikan  Islam
. PT. Ciputat
Press: Ciputat. Hlm. 11
[10]Said Agil Husain Al
Munawar. 2005.  Aktualisasi
Nilai-Nilai Qur’ani Dalam Sistem 
Pendidikan  Islam
. PT. Ciputat
Press: Ciputat. Hlm. 12
[11] Maftuh Ahnan, dkk.2011. Menghindari
Bahaya Riya’ (Pamer Amal).
Delta Prima Press. Hlm 150
[12]Ridin Sofwan, dkk. 2000.Islamisasi
di jawa
. Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI): Yogyakarta. Hlm. 273
[13]Said Agil Husain Al
Munawar. 2005.  Aktualisasi
Nilai-Nilai Qur’ani Dalam Sistem 
Pendidikan  Islam
. PT. Ciputat
Press: Ciputat. Hlm. 13
[14] Juwariyah. 2010. Hadis
tarbawi
.Teras: Yogyakarta. Hlm. 4
[15] Said
Agil Husain Al Munawar. 2005.  Aktualisasi
Nilai-Nilai Qur’ani Dalam Sistem 
Pendidikan  Islam
. PT. Ciputat
Press: Ciputat. Hlm.
14

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *