CONTOH PENELITIAN PERKEMBANGAN MASA BAYI USIA 0-2 TAHUN MAKALAH DAN HASIL PENELITIAN LENGKAP

Posted on
PENELITIAN PERKEMBANGAN MASA BAYI USIA 0-2 TAHUN
MAKALAH DAN HASIL PENELITIAN
Mata Kuliah: Psikologi Perkembangan
Dosen Pengampu: Farida xxxxxx

Disusun Oleh:
MUHAMMMAD XXXXXXXXXXXXXXX

 


SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
TARBIYAH/PAI
201XX
1.     
PENDAHULUAN
Pertumbuhan
yang pesat selama  rentang kehidupan
terjadi pada masa bayi dan pada periode pubertas. Selama enam bulan pertama,
pertumbuhan terus terjadi dengan pesat seperti pada periode prenatal dan kemudian
mulai menurun. Dalam tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun. Selama
tahun pertama, peningkatan berat tubuh lebih besar dari pada peningkatan
tinggi, selama tahun kedua terjadi hal yang sebaliknya.
Meskipun
pola umum dari pertumbuhan dan perkembangan sama bagi bayi, tetapi tetap ada
perbedaan dalam tinggi, berat, kemampuan sensorik dan bidang perkembangan fisik
lain. Beberapa bayi mulai kehidupan dengan yang lebih kecil dan perkembangan
yang kurang normal. Mungkin ini disebabkan karena belum cukup umur atau kondisi
fisiknya yang buruk akibat ibu kekurangan gizi, mengalami tekanan atau kondisi
kurang baik lainnya selama periode prenatal. Akibatnya bayi itu cenderung
tertinggal dari teman-teman sebayanya dalam tahun-tahun dimasa bayi. [1]
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan fisik adalah factor keturunan dan
asupan makanan yang bergizi.
Umumnya
ahli psikologi perkembangan membatasi periode masa bayi dalam 2 tahun pertama
dari periode pascanatal. Masa bayi disebut juga sebagai periode vital, karena
kondisi fisik dan psikologis bayi merupakan fondasiyang kokoh bagi perkembangan
dan pertumbuhan selanjutnya. [2]
Masa
bayi berlangsung dua tahun pertama setelah periode bayi yang baru lahir dua
minggu. Masa bayi disebut juga sebagai periode vital, karena kondisi dan mental
bayi menjadi fundasi kokoh bagi perkembangan dan pertumbuhan selanjutnya.
Karena itu peranannya sangat vital dan penting. Lagi pula, pada periode ini
berlangsung proses pertumbuhan yang cepat sekali.
Bayi
yang baru lahir dan sehat, dengan cepat akan belajar menyesuaikan diri dengan
alam lingkungannya, dan melakukan tugas-tugas perkembangan tertentu. Ada
tugas-tugas melakukan kegiatan yang harus diatihnya setiap waktu, agar bayi
atau anak mampu melakukan adaptasi social (penyesuaian diri terhadap lingkungan
social) dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya. Macam-macam
perkembangan yang dialami oleh bayi yakni perkembangan fisik, emosi, social,
bahasa, intelegensi, motorik dan lain-lain. Perkembangan itu dilalui oleh bayi
sesuai dengan umurnya. Ada yang cepat perkembangannya dan ada yang lambat.


2.     
DASAR TEORI

Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan anak usia 0 -2 tahun meurut teori
,yaitu :
Ø  PERKEMBANGAN FISIK

Pola
Perkembangan Fisik selama masa bayi meliputi :
·        
Berat
Pada
usia empat bulan, berat bayi biasanya bertambah dua kali lipat. Pada usia satu
tahun barat bayi rata-rata tiga kali lipat berat pada waktu lahir atau sekitar
21 pon. Pada usia dua tahun rata-rata berat bayi Amerika adalah 25 pon.
·        
Tinggi
Pada
usia empat bulan, ukuran bayi antara 23 dan 24 inci, pada usia satu tahun,
antara 28 dan 30 inci, dan usia dua tahun, antara 32 dan 34.
·        
Otot dan lemak
Urat-otot
sudah ada pada waktu lahir tetapi dalam bentuk yang belum berkembang. Urat-otot
itu berkembang lambat selama masa bayi dan lemah. Seba;iknya, jaringan lemak
berkembang pesat, sebagian karena tingginya kadar lemak didalam susu yang
merupakan bahan makanan pokok bagi bayi.
·        
Bangun tubuh
Selama
tahun kedua, ketika proporsi tubuh berubah, bayi mulai memperlihatkan
kecenderungan bangun tubuh yang karaktesistik. Tiga bentuk bangun tubuh yang
paling lazim adalah ektomorfik, yang cenderung panjang dan langsing,
endomorfik, yang cenderung bulat dan gemuk, dan mesomorfik yang cenderung
berat, keras, dan empat persegi panjang.
·        
Gigi
Rata-rata
bayi mempunyai empat hingga enam gigi susu pada usia satu tahun da 16 pada usia
dua tahun. Gigi yang pertama muncul adalah gigi depan, sedangkan yang terakhir
adalah geraham. Empat gigi susu yang terakhir biasanya baru muncul pada tahun
pertama masa kanak-kanak.
·        
Proporsi Fisik
Pertumbuhan
kepala berkurang dalam masa bayi, sedangkan pertumbuhan badan dan tungkai
meningkat. Jadi bayi berangsur–angsur menjadi kurang berat di atas dan tampak
lebih ramping dan tidak gempal pada masa akhir bayi.
·        
Tulang
Jumlah
tulang meningkat selama masa bayi. Pengerasan tulang dimulai pada awal tahun
pertama, tetapi belum selesai sampai masa puber. Ubun–ubun atau daerah otak
yang lunak 50% bayi yang lahir telah tertutup pada usia delapan belas bulan,
dan pada hampir semua bayi telah tertutup pada dua tahun.
·        
Susunan Saraf
Pada
waktu lahir, berat otok adalah seperdelapan berat total bayi. Pertambahan berat
otat paling pesat pada usia dua tahun. Otak kecil yang berperan penting untuk
menjaga keseimbangan dan pengendalian tubuh, bertambah beratnya tiga kali lipat
satu tahun sesudah kelahiran. Ini berlaku juga untuk otak besar.
·        
Perkembangan
Organ Perasa
Pada
usia tiga bulan, otot mata sudah cukup. Terkoordinasi untuk memungkinkan mereka
melihat sesuatu secara jelas dan nyata dan sel-sel kerucut sudah berkembang
baik untuk memungkinkan mereka melihat warna. Pendengaran berkembang pesat
selama waktu ini. Penciuman dan pengecapan yang berkembang baik pada waktu
kelehiran, terus membaik selama masa bayi. Bayi sangat tanggap terhadap semua
perangsang kulit karena tekstur kulit mereka yang tipis dan karena semua organ
perasa yang berhubungan dengan peraba, tekanan, rasa, sakit dan suhu berkembang
dengan baik.[3]
Ø  PERKEMBANGAN EMOSI
Emosi
sebagai perasaan atau afeksi yang timbul ketika seseorang sedang berada dalam
suatu keadaan atau suatu interaksi yang dianggap penting olehnya. Emosi
diwakili oleh perilaku yang mengekspresikan kenyamanan atau ketidak nyamanan
terhadap keadaan atau interaksi yang sedang dialami. Emosi juga bisa berbentuk
sesuatu yang spesifik separti rasa senang, takut, marah, dan seterusnya.
Sebagai contoh, seorang bayi bisa menunjukkan ketakutan yang luar biasa atau
yang biasa saja pada situasi tertentu.[4]
Bayi
menangis karena ia merasa lapar, dan tangisan itu berubah menjadi tangisan
panik bila didiamkan terlalu lama. Pada masa bayi emosi terbagi menjadi dua :
1. 
Emosi Primer, yang muncul pada manusia dan juga binatang. Yang termasuk
emosi primer ini adalah terkejut, tertarik, senang, marah, sedih, takut, dan
jijik. Semua emosi ini muncul pada usia 6 bulan pertama.
2.  Emosi yang disadari, yang memerlukan kognisi,
terutama kesadaran diri. Yang termasuk jenis emosi ini adalah empati, cemburu
dan kebingungan yang muncul pada 1,5 tahun pertama (setelah timbulnya kesadaran
diri), selain itu juga ada bangga, malu, rasa bersalah yang mulai muncul pada
2,5 tahun pertama.
Pada
usia tiga bulan, bayi bisa merasakan perasaan tertekan disatu pihak dan dan
perasaan senang atau gembira dilain pihak. Berarti senang dan gembira merupakan
perkembangan emosi baru yang sifatnya baru dan tidak terdapat ketika bayi
lahir. Pada usia lima bulan muncul perasaan marah dan benci, yang merupakan
sisi lain perkembangan perasaan tertentu yang terganggu. Usia tujuh bulan mulai
nampak adanya perasaan takut. Kemudian umur 10-20 bulan, perasaan bersemangat
dan kasih sayang mulai terpisah dari perasaan senang atau gembira.
Makin
besar anak itu, makin besar pula kemampuannya untuk belajar dari lingkungan,
sehingga perkembangan emosinya semakin rumit. Perkembangan perasaan melalui
proses kematangan hanya terjadi sampai seorang anak berusia satu tahun. Setelah
itu perkembangan emosi selanjutnya lebih banyak ditentukan oleh proses dan
hasil belajar.
Ø  PERKEMBANGAN BAHASA
Bahasa
mempunyai fungsi antara lain sebagai alat untuk menyatakan ekspresi,
mempengaruhi orang lain, dan sebagai alat untuk memberi nama sesuatu.[5]
Perkembangan mental lainnya pada bayi ialah kemampuan menggunakan kata-kata
permulaan; ada pengembangan bahasa. Ia mulai bersuara untuk mengingatkan
kehadirannya pada orang dewasa dan ibunya. Mula-mula bayi meracau dengan
menggunakan suara dan lafal tertentu sebagai alat komunikasi dengan orang
dewasa. Ia berceloteh dan berkicau riang, jika hatinya merasa senang gembira.
Celotehan ini akan bernada tinggi dan mengeras bunyinya, jika dia merasa tidak
sabaran dan tidak senang. Lalu berganti jadi geram dan tangis. Oleh karena itu
pada usia yang sangat muda, tangis bayi merupakn alat komunikasi dan alat
pengekspresi kehidupan batiniahnya.[6]
Masa
bayi dikatakan juga sebagai fase pra-bicara, dimana ada 4 tahap yang akan
dilalui, yakni:
A.   
Pra-mengoceh
(berupa tangisan dan bunyi bahasa tertentu)
B.    
Mengoceh (usia
sekitar 6-12 bulan)
C.    
Kalimat satu
kata (usia sekitar 12-15 bulan)
D.   
Kalimat dua
kata.
Perkembangan
kemampuan berbahasa dapat juga dipergunakan sebagai salah satu tanda
perkembangan kognitif. Kemampuan berbahasa untuk bayi usia 4 minggu ditandai
oleh keluarnya suara-suara kecil yang berasal dari tenggorokan, dan bayi mulai
tertarik pada suara bel. Sekitar usia 4 bulan, si bayi mampu tertawa, dan
menunjukkan vocal-vokal yang ramah, senang.[7]
Pada usia 6 atau 7 bulan, anak-anak mulai berbicara yakni misalnya dengan
menggunakan kata-kata yang belum jelas artinya.
Clara
dan Wiliam Stern, ilmuan bangsa Jerman, membagi perkembangan bahasa bayi usia
1-2 tahun menjadi dua :
1. Kalimat satu kata (usia 1 sampai
1,5 tahun)
Sebagian
kata-kata yang diucapkan anak belum dapat disebut kata dalam arti yang
sebenarnya. Anak menggunakan kata-kata itu untuk menyatakan perasaan dan
keinginannya dengan satu kata. Pernyataan satu kata telah mempunyai arti
sebagai satu kalimat. Contoh, anak berkata “ibu!” sambil ia menunjuk kearah
kursi. Sebenarnya yang ingin dikatakannya ialah “mari duduk dikursi.” Diantara
perkataan-perkataan yang diucapkan itu diikuti dengan gerakan-gerakan badannya.
2. Kalimat dua kata dam kalimat tiga
kata (usia 1,5 sampai 2 tahun).
Masa
ini disebut juga dengan masa memberi nama, karena pada masa ini anak sudah
menyadari bahwa setiap benda mempunyai nama. Pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan anak berupa, ini apa? Itu apa? Siapa itu? Mengapa ia? Dan sebagainya.
Pada masa ini terjadi gejala kesukaran berbicara. Hal ini disebabkan karena
perkembangan pikiran dan perasaannya lebih cepat daripada perbendaharaan kata
yang dikuasainya. Untuk melengkapi kekurangan ini, anak melengkapinya dengan
gerakan-gerakan tangan, muka dan sebagainya. Gerakan-gerakan itu akan berkurang
seiring kemajuan perkembangan bahasanya.[8]
Ø  PERKEMBANGAN SOSIAL
Sebagian
psikolog berpendapat bahwa perkembangan social anak dimulai sejak anak lahir
didunia. Terbukti, seorang anak yang menangis adalah dalam rangka mengadakan
hubungan atau kontak dengan orang lain. Atau anak tampak mengadakan aktifitas
meraban, tersenyum bila memperoleh rangsangan dan teguran dari luar.
Bayi
merupakan makhluk social, yang membutuhkan adanya orang lain. Pada periode ini,
ia tergantung sepenuhnya pada orang lain dalam memenuhi segala kebutuhannya,
terutama kasih sayang dan perlindungan dari segala gangguan.
Ibu
merupakan orang pertama yang dikenalnya, karena ibulah yang merawatnya dan
selalu berada didekatnya. Hubungan dengan ibu ini sangat erat, sehingga bila
ditinggal oleh sang ibu dia akan menangis. Sekitar usia 3 atau 4 bulan seorang
anak sudah dapat mengenal wajah ibunya. Setelah itu baru pada orang lain yang
ikut merawatnya setiap hari, misalnya ayah, kakak, nenek dan anggota keluarga
yang lain. Batas lingkup hubungan social ini terbatas para orang-orang seisi
rumah dan pada unit keluarga saja. Terhadap orang-orang diluar rumah yang tidak
dikenalnya, dia merasa asing, namun lama kelamaan setelah terbiasa bertemu ia
tidak merasa takut atau asing lagi.
Jadi
orang yang dikenal lebih dahulu oleh seorang bayi adalah orang yang selalu
dekat dengannya, yang sering dia jumpai setiap saat, baru orang-orang lain yang
berada diluar rumah.[9]
Perilaku
social-pribadi untuk bayi usia 4 minggu sampai dengan 12 bulan, diawali dengan
mulai memerhatikan wajah. Kemudian bermain-main dengan tangan dan bajunya,
mampu mengenali botol, serta mulai memasukkan makanan ke mulut. Tahap
berikutnya adalah mulai bermain dengan kaki dan mainan, mengharapkan suasana
ketika sedang makan. Selanjutnya diikuti oleh kemampuan untuk bermain permainan
anak-anak yang sederhana, serta mampu makan biscuit sendiri. Pada usia sekitar
12 bulan, bayi akan mulai tampak kemauan untuk dipakaikan baju, mampu berbagi
mainan, serta mampu makan dengan jari-jari tangan.
Perilaku
social pribadi yang ditunjukkan oleh anak yang berusia 18 bulan adalah
kemampuan untuk makan dengan menggunakan sendok, meskipun masih terdapat
remah-remah makanan yang terjatuh. Selain itu keinginan untuk buang air besar
ataupun kecil sudah mulai teratur. Kemampuan mengatur keinginan buang air ini
akan akan diikuti oleh kemampuan untuk menyatakan keinginan buang air serta
kemampuan untuk bermain dengan boneka ketika anak berusia 2 tahun.[10]
Ø  PERKEMBANGAN MOTORIK
Yang
dimaksud dengan motorik adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan
gerakan-gerakan tubuh. Ada 3 unsur yang memegang peranan dalam motorik, yaitu
otot, otak dan saraf. Gerakan-gerakan tubuh yang dimotori dengan kerja sama
antara otot, otak dan saraf-saraf kita namakan motorik. Mula-mula bayi dapat
menguasai otot-otot bibir, lidah, mata dan sebagainya, kemudian ia menguasai
otot-otot leher dan bahunya. Anak yang berusia 3 bulan sudah dapat menggerak-gerakkan
kepalanya mencari-cari sumber bunyi, mengikuti benda dengan matanya. Pada saat
inilah ada artinya anak diberi alat mainan, misalnya balon berwarna yang digantungkan
diatas ayunannya.[11]
Untuk
lebih jelasnya, akan dipaparkan tahapan-tahapan motorik dalam periode ini,
yaitu sebagai berikut :
§  Usia 2,5 bulan, dapat mengangkat kepalanya 45 derajat sambil
berbaring tengkurap.
§  Usia 3,2 bulan, dapat duduk dengan bantuan orang lain, kepala dapat
tegak/diam.
§  Usia 4,8 bulan, bila dalam posisi telungkup, sudah dapat mengangkat
perut, dada dan kepala atas.
§  Usia 10,2 bulan, sudah dapat duduk tanpa bantuan orang lain.
§  Usia 12,2 bulan, dapat berdiri dengan berpegangan.
Sedangkan
tahapan dalam belajar berjalan, yang dimulai belajar duduk, merangkak, baru
kemudian berjalan, dapat dilihat dalam uraian berikut:
v  Usia 1 bulan, bayi hanya bisa mengenal gerak. Setelah umurnya
bertambah ia mulai berlatih menggerak-gerakkan tubuhnya.
v  Usia 2 bulan, ia menggerakkan dan memutar kepalanya dengan susah
payah.
v  Usia 3 bulan, ia belajar membalikkan badannya, tetapi setelah
tertelungkup, seluruh badan dan mukanya terbenam diatas pembaringannya.
v  Usia 4 bulan, pada waktu tertelungkup, mencoba mendongakkan
kepalanya sedikit walaupun dalam waktu yang singkat sekali.
v  Usia 5 bulan, setelah mampu menegakkan kepalanya, mencoba
mengangkat dadanya dengan menopangkan kedua kaki dan tangannya.
v  Usia 6 bulan, sudah ada keinginannya untuk merangkak bila sedang
menelungkup, dan diletakkan sebuah mainan didepannya, ia akan menggerak-gerakan
kaki dan tangannya seolah-olah berenang, tetapi hasilnya belum tercapai karena
otot-ototnya belum kuat, dengan sedikit bantuan dengan mengangkat badannya
barulah ia dapat bergerak maju sedikit.
v  Usia 7 bulan, sudah dapat duduk sendiri dan berbaring
berbalik-balik.
v  Usia 8 bulan, dibantu belajar berdiri.
v  Usia 9 bulan, dapat berdiri sendiri sambil berpegang pada sisi-sisi
meja dan kursi.
v  Usia 10 bulan, jika otot-ototnya sudah cukup kuat, serta sarafnya
cukup matang, mulai berlatih merangkak.
v  Usia 11 bulan, belajar merambat dengan berpegangan pada perabot
rumah tangga.
v  Usia 12 bulan, mencoba berdiri sendiri, selanjutnya berjalan
sendiri.
Untuk
kecakapan memegang atau meraih benda dalam rangka mengkoordinasikan jari-jari
tangannya, sehingga dapat memegang dengan sempurna, melalui tahap-tahapan
sebagai berikut :
ü  Usia 1 bulan, akan memandang benda yang ada dihadapannya, tapi
masih belum mampu untuk memegang.
ü  Usia 2,5 bulan, akan memukul benda itu.
ü  Usia 4 bulan, sudah mencoba untuk menyentuhnya.
ü  Usia 5 bulan, sudah dapat menyentuh, mencoba memegang tapi belum
dapat menggenggamnya dengan baik.
ü  Usia 7 bulan, telapak tangan ikut memegang peranan.
ü  Usia 9 bulan, jari telunjuk mulai memegang peranan.
ü  Usia 13 bulan, sudah ada koordinasi antara ibu jari dan jari
telunjuk, dan jari-jari yang lain sudah dapat dipakai secara efektif. Dengan
kata lain si bayi sudah dapat memegang dengan baik.
Perlu
diketahui bahwa batasan-batasan umur dalam uraian ini bersifat relative, karena
setiap anak mempunyai irama perkembangan sendiri-sendiri.[12]
Pada
usia sekitar 17 bulan, anak sudah dapat berjalan dengan berbagai variasi,
misalnya berjalan mundur, dan berjalan diatas tumit pada sekitar 30 bulan.
Sekitar usia 18 atau 20 bulan, anak dapat memanjat tangga dengan bantuan orang
lain. Biasanya yang menjadi sasaran untuk melakukan kegiatan memanjat ini
adalah benda-benda perabot rumah tangga, seperti kursi, meja, almari, pagar,
dan lain sebagainya, sehingga membuat pusing orang yang mengawasinya. Pada usia
18 bulan, anak juga sudah mencoba untuk berlari, meskipun gaya berlarinya masih
seperti gaya berjalan.[13]
Ø  PERKEMBANGAN KOGNITIF
Pada
usia 1 – 2 tahun, anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Pada usia
ini, anak mengembangkan rasa keingintahuannya melalui beberapa hal berikut ini
:
Belajar melalui pengamatan/
mengamati.
Mulai
usia 13 bulan, anak sudah mulai mengamati hal-hal di sekitarnya. Banyak
“keajaiban” di sekitarnya mendorong rasa ingin tahu anak. Anak kemudian
melakukan hal-hal yang sering dianggap bermain, padahal anak sedang mencari
tahu apa yang akan terjadi kemudian setelah anak melakukan suatu hal sebagai
pemuas rasa ingin tahunya. Pada usia 19 bulan, anak sudah dapat mengamati
lingkungannya lebih detail dan menyadari hal-hal yang tidak semestinya terjadi
berdasarkan pengalamannya.
A.   
Meniru orang
tua.
Anak
belajar dari lingkungan sekitarnya. Sekitar usia 17 bulan, anak sudah mulai
mengembangkan kemampuan mengamati menjadi meniru. Hal yang ditirunya adalah
hal-hal yang umumnya dilakukan orang tua. Pada usia 19 bulan, anak sudah banyak
dapat meniru perilaku orangtua.
B.    
Belajar
konsentrasi.
Pada
usia 14 bulan, anak sudah mengarahkan daya pikirnya terhadap suatu benda. Hal
ini dapat dilihat pada ketekunan anak dengan satu mainan atau satu situasi.
Kemampuan anak untuk berkonsentrasi tergantung pada keadaan atau daya tarik
berbagai hal yang ada di sekelilingnya. Kemampuan anak untuk berkonsentrasi
pada usia ini adalah sekitar 10 menit.
C.    
Mengenal
anggota badan.
D.   
Pada usia
sekitar 15 bulan,
 anak sudah dapat diajarkan untuk mengucapkan
kata-kata. Anak-anak akan merasa sangat senang jika orangtua mengajarkan
kata-kata yang bernamakan anggota tubuhnya sambil menunjukkan anggota tubuhnya.
E.    
Memahami
bentuk, kedalaman, ruang dan waktu.
Pada
tahun kedua, anak sudah memiliki kemampuan untuk memahami berbagai hal. Melalui
pengamatannya, anak menemukan adanya bentuk, tinggi atau rendah benda
(kedalaman) dan membedakan kesempatan berdasarkan tempat (ruang ) dan waktu.
Pemahaman ini mulai tampak pada usia 18 – 24 bulan.
F.     
Mulai mampu
berimajinasi.
Kemampuan
berimajinasi atau membentuk citra abstrak berkembang mulai usia 18 bulan. Anak
sudah mulai menampakkan kemampuan untuk memikirkan benda yang tidak dilihatnya.
G.   
Mampu berpikir
antisipatif.
H.   
Kemampuan ini
mulai tampak pada anak usia 21 – 23 bulan. Anak tidak sekedar mengimajinasikan
benda yang tidak ada di hadapannya, lebih jauh lagi dia mulai dapat
mengantisipasi dampak yang akan terjadi pada hal yang dilakukannya.
I.      
Memahami
kalimat yang terdiri dari beberapa kata.
J.      
Pada usia 12 –
17 bulan, anak sudah dapat memahami kalimat yang terdiri atas rangkaian
beberapa kata. Selain itu, anak juga sudah dapat mengembangkan komunikasi
dengan menggunakan gerakan tubuh, tangisan dan mimik wajah. Pada usia 13 bulan,
anak sudah mulai dapat mengucapkan kata-kata sederhana seperti “mama” atau “papa”.
Pada usia 17 bulan, umumnya anak sudah dapat mengucapkan kata ganti diri dan
merangkainya dengan beberapa kata sederhana dan mengutarakan pesan-pesan
seperti: “ Adik mau susu.”
K.   
Cepat menangkap
kata-kata baru.
L.    
Pada usia 18 –
23 bulan, anak mengalami perkembangan yang pesat dalam mengucapkan kata-kata.
Perbendaharaan kata anak-anak pada usia ini mencapai 50 kata. Selain itu, anak
sudah mulai sadar bahwa setiap benda memiliki nama sehingga hal ini
mendorongnya untuk melancarkan kemampuan bahasanya dan belajar kata-kata baru
lebih cepat.

IDENTITAS  ANAK




USIA : 6  BULAN
A.    Identitas
Bayi
Nama                : XXXXXXXXXXXXXXXXX
TTL                   : XXXXXXXXXXXXXXX
Nama
Ayah       : IXXXXXXXXXXXXXX
TTL
Ayah         : XXXXXXXXXXXXXXXXXX
Alamat              : XXXXXXXXXXXXXXX
Pekerjaan          : XXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Nama
Ibu          : XXXXXXXXXXXXX
TTL
Ibu            : PXXXXXXXXX
Alamat              : XXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Pekerjaan          : XXXXXXXXXXXXXXXX
METODE
PENELITIAN DAN HASIL OBSERVASI
A.   
PENDEKATAN DAN
JENIS PENELITIAN
 Dalam penelitian aktivitas anak usia 0-2
tahun, saya menggunakan  pendekatan
kualitatif yang lebih menekankan pada analisis pada proses penyimpulan deduktif
dan induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antara bayi
laki-laki dan perempuan pada usia 0-2 tahun yang diamati. Dalam hal ini saya
meneliti bayi perempuan.

 B. KEHADIRAN PENELITI
Peneliti dalam melakukan penelitian dengan berkunjung langsung kerumah subjek
yang diteliti atau mengamati anak ketika melakukan aktivitas di luar rumah yang
di dampingi oleh orang tua. Jadi, peneliti menanyakan langsung tentang kegiatan
anak kepada orang tua. Penelitian di lakukan pada tanggal Sabtu 31 Mei 2014.

C. LOKASI PENELITIAN
Lokasi penelitian anak usia 0-2 tahun, lebih tepatnya usia 6 bulanan, pada
perempuan berada di Ds. Gerit, Rt 05 Rw 02 Krajan ,Kec Cluwak, Pati


D. SUMBER DATA PENELITIAN
Dalam penelitian aktivitas anak usia 0-2 tahun, peneliti menggunakan data
primer, dengan metode sebagai berikut:

1. Metode Pengamatan (Observasi)
Metode pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung
terhadap subjek yang diteliti.

2. Metode Wawancara (Interview)
Metode pengumpulan data yang dilakukan peneliti dengan cara mengajukan
pertanyaan langsung kepada pihak yang bersangkutan (orangtua) untuk mencari
keterangan yang ada hubungannya dengan subjek yang diteliti.

3. Metode Kepustakaan
Pengumpulan data dengan cara membaca buku dan browsing internet yang
berhubungan dengan subjek yang diteliti.

            Dari
hasil obsevasi yang saya lakukan, terhadap anak usia 6 bulan yang saya teliti
pada anak tetanggga saya yang ada dirumah, hampir semua yang tertera dan
tertulis diteori yang dipaparkan oleh para ahli ahli psikologi terbukti
kebenarannya. Mulai dari pertumbuhan fisik yang meliputi pertumbuhan berat
badan, tinggi, otot dan lemak, bangun tubuh,pertumbuhan gigi, tulang dan
lainnya tumbuh dengan sempurna, Tutur mbak
Putri Mahardhika
Puspita ,
alhamdulillah anak saya lahir tanpa
oprasi , lahir seperti anak anak normal pada umumnya. Ini adalah anak pertama
dan perdana saya , saya belum berpengalaman mengurus bayi. Bayi ini tapi masih
diberi tambahan susu formula , kata ibunya sih gak papa
Bayi
yang saya teliti ini sudah ada keinginannya untuk merangkak bila sedang
menelungkup, dan diletakkan sebuah mainan didepannya, ia akan menggerak-gerakan
kaki dan tangannya seolah-olah berenang, tetapi hasilnya belum tercapai karena
otot-ototnya belum kuat, dengan sedikit bantuan dengan mengangkat badannya
barulah ia dapat bergerak maju sedikit. Jadi sama seperti yang di utarakan pada
teori.
Bila
si dalam posisi telungkup, ia sudah dapat mengangkat perut, dada dan kepala
atas. Diusia ini bayi sudah bisa ngoceh jika ada orang disampingnya yang
memnemani nya, kata ibunya.  Dan jika
bayi ini tidur dan waktu bangun selalu menangis. Mungkin ini normal ya semua
bayi juga begitu.
Kedekatan
si anak  dengan orang tuanya sangat
dekat, terutama bapaknya. Karenanya bapaknya beranggapan bahwa jika pakaian
anak dari kecil di cuci orang tuanya (bapak) maka si anak ini akan semakin
dekat dengan bapaknya. Maklum katanya anak pertama.  Demikian tadi penuturan si bapak kepada
peneliti.
 pada
perkembangan bayi 6 bulan, bayi sangat belajar dari sekelilingnya dengan
menggunakan inderanya dengan baik. Mereka akan mengekplorasi dengan baik
keadaan sekelilingnya yang masih merupakan hal yang baru bagi bayi. Dalam hal
ini orang tua sudah memfasilitasi dengan baik perkembangan buah hatinya dengan
menyediakan mainan bayi yang sesuai dengan perkembangan bayi 6 bulan ini.
Inilah yang saya tangkap dari bayi yang saya teliti pada usia 6 bulan tersebut.
Saya  merasa senang dengan kehadiran sibayi yang
lucu dan imut ini.

REFLEKSI DAN KESIMPULAN
 

            Jadi
dapat saya simpulkan dari penelitian yang saya lakukan dan dengan disesuaikan
dengan teori yang ada antara teori dan kenyataannya dilapangan sama ,karena
bayi yang saya teliti alhamdulillah normal semua , dan tidak ada cacat apapun
dari si bayi. Saya juga menanyakan kepada si orang tua bahwa pola hidup dan
makannya juga baik , karena ayahnya juga bukan seorang perokok, ibunya juga
seperti  ibu ibu yang lainnya. Jadi anak
yang dihasilkan dari kedua orang tuanya tumbuh dan berkembang dengan normal.
Beberapa
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan anak usia 0 -2 , dalam hal ini yang saya
teliti pada anak usia 6 tahun
·        
Perkembangan
fisik
yang meliputi  Berat , Tinggi , Tinggi, Otot dan lemak ,
Bangun tubuh , Gigi, Proporsi Fisik , Tulang, Susunan Saraf.
·        
Perkembangan
emosi,
Emosi sebagai perasaan atau afeksi
yang timbul ketika seseorang sedang berada dalam suatu keadaan atau suatu
interaksi yang dianggap penting olehnya
·        
Perkembangan
bahasa ,
Bahasa mempunyai fungsi antara lain
sebagai alat untuk menyatakan ekspresi, mempengaruhi orang lain, dan sebagai
alat untuk memberi nama sesuatu.
·        
Perkembangan
sosial
, Sebagian psikolog berpendapat
bahwa perkembangan social anak dimulai sejak anak lahir didunia. Terbukti,
seorang anak yang menangis adalah dalam rangka mengadakan hubungan atau kontak
dengan orang lain.
·        
Perkembangan
motorik,
adalah segala sesuatu yang ada
hubungannya dengan gerakan-gerakan tubuh.
·        
Perkembangan
kognitif
, Pada usia 1 – 2 tahun, anak
memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Pada usia ini,


DAFTAR PUSTAKA



[1] Elizabeth
B. Hurlock. Psikologi Perkembangan ( Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan). Jakarta : Erlangga. Hal : 79.
[2]
Samsunuwiyati mar’at . Psikologi Perkembangan . Bnadung : PT. Remaja
Rosdakarya.Hlm: 91
[3] Ibid. Elizabeth
B. Hurlock. Psikologi Perkembangan ( Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan). Jakarta : Erlangga. Hal : 80
[4] John W.
Santrock. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga. 2007. Hal :6.
[5] Drs
Zulkifli L. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosda Karya. 1992. Hal :34.
[6] Dr.
Kartini Kartono. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung : Mandar
Maju. 1995. Hal :103-104
[7] Wiwien
Dinar Pratisti. Psikologi Anak Usia Dini. Bogor : Macanan Jaya Cemerlang. 2008.
Hal:71
[8] Dr. H.
Imam Bawani, M.A. Perkembangan Jiwa Anak Usia Balita. Surabaya : Bina Ilmu
Offset. 1997. Hal: 52-53.
[9] Ibid.
Hal:42
[10] Wiwien
Dinar Pratisti. Op. Cit,. Hal:
[11] Drs.
Zulkifli L. Op. Cit., Hal: 25.
[12] Dr. H.
Imam Bawani, M.A. Op. Cit., Hal:47-49
[13] Dr. H.
Imam Bawani, MA. Op. Cit., Hal 70-71

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *