EVALUASI KEBIJAKAN KURIKULUM 2013 DI KABUPATEN PATI

Posted on

EVALUASI KEBIJAKAN KURIKULUM 2013DI KABUPATEN PATI


Oleh:INDA

EVALUASI KEBIJAKAN KURIKULUM 2013  DI KABUPATEN PATI



ABSTRACT


The world of education is facing many changes in accordance with the demands and needs of the times, to address concerns and global changes occurring so rapidly. The Indonesian nation is facing a very dramatic phenomenon, namely the lack of competitiveness as an indicator that the education has not been able to produce the Human Resources (HR) quality.
In an effort to change the curriculum do. By letter letter of the Minister of Education and Culture of the Republic of Indonesia No. 0128 / MPK / KR / 2013 dated June 5, 2013 to all Heads of Provincial Departments of Education / Regency / City throughout Indonesia on 2013 curriculum policy implementation in stages and limited start of the school year 2013/2014 confirmed Decree of the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia number 81 A, on implementation of curriculum Policy in 2013, the district education office instructs Pati curriculum changes in the curriculum of 2006 to 2013 under Regulation 32 In 2013, the school set.
The research question is; How is the performance of curriculum policy in 2013 in improving the quality of education and the factors that can contribute to the effectiveness of curriculum policy in 2013 in improving the quality of education in Pati.
Keywords ; EvaluationPolicy, Curriculum 2013,Kabupaten Pati



PENDAHULUAN


Latar Belakang Masalah


Dunia pendidikan dihadapkan pada berbagai perubahan sesuai dengan tuntutan kebutuhan zaman, pendidikan di Indonesia diharap mampu menjawab berbagai permasalahan dan perubahan global yang pesat. Perubahan dan permasalahan tersebut menurut Sanusi (2003), mencakup  pasar bebas, tenaga kerja bebas. Perkembangan masyarakat informasi, serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya yang sangat  maju pesat.
Pendidikan di Indonesia menghasilkan lulusan yang masih rendah daya saingnya, hal tersebut merupakan indikatorpendidikan belum mampu menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Human development index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP melaporkan bahwa Indonesia berada pada ranking 108 tahun 1998, ranking 109 pada tahun 1999, dari laporan yang dirilis UNDP tersebut, Indonesia menempati urutan ke 124 dari 187 negara yang di survei dengan perolehan nilai 0,617. Nilai ini mengalami kenaikan dari nilai yang diperoleh dua tahun terakhir yaitu tahun 2009 sebesar 0,593, sedang pada tahun 2010 sebesar 0,600. Posisi ini di bawah lima Negara Asia Tenggara yaitu; Singapura yang menempati urutan 26, diikuti oleh Brunei diurutan 33, Malaysia diurutan 61, Thailand diurutan 100, dan Philipina pada urutan 112 (Tempo, 2011)
Sebagai upaya mengejarketertinggalan, pendidikan Indonesia diadakan perubahan kurikulum,  perubahan  dari kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013.Kurikulum 2006 identik dengan KBK danKTSP, kompetensi lulusan menekankan pada aspek pengetahuan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, menyebutkan bahwakompetensi adalah kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, danketerampilan yang dimiliki peserta didik. Kompetensi dikembangkan untuk memberikan keterampilan dan keahlian berdaya saing untuk bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidaktentuan, serta berbagai kerumitan dalam kehidupan.
Keputusan Kementerian Pendidikan danKebudayaan Republik Indonesia nomor 81A, tentang Kebijakan Implementasi Kurikulum 2013, maka dinas pendidikan kabupatenPati menginstruksikan perubahan kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013, berdasarkan PP No. 32 Tahun 2013, fokus utama perubahan kurikulum 2013 meliputi empat standar nasional pendidikan, yaitu: 1) Standar kompetensi lulusan; 2) Standar isi; 3) Standar proses; dan 4) standar penilaian (Permendiknas : 2013).


Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, dapat diidentifikasi beberapa masalah dalam penyelenggaraan kurikulum 2013 di kabupaten Pati, sebagai berikut:
1) Bagaimana efektivitas kebijakan kurikulum 2013 di Sekolah Dasar penyelenggara kurikulum 2013 di dinas pendidikan di kabupaten Pati?
2)   Faktor-faktor yang dapat memberikan kontribusi pada kebijakan kurikulum 2013 disekolah dasar penyelenggara kurikulum 2013, dalam meningkatkan mutu pendidikan di kabupaten Pati.
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah penelitian, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi efektivitas kebijakan kurikulum 2013 di Sekolah Dasar  penyelenggara kurikulum 2013 Dinas Pendidikan kabupaten Pati .
2. Mengidentifikasi dan mendiskripsikan faktor yang memberikan kontribusi  terhadap kebijakan kurikulum 2013 sekolah dasar di kabupaten Pati.
Teori yang digunakan
Devinisi evaluasi, adalah suatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi, dan efektivitas suatu program. Wirawan (2006) evaluasi adalah proses mengumpulkan dan menyajikan informasi mengenai objek evaluasi, menilainya dengan standar evaluasi dan hasilnya dipergunakan untuk mengambil keputusan mengenai objek evaluasi. Dari definisi evaluasi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, selanjutnya menyajikan informasi dalam rangka pengambilan keputusan terhadap implementasi dan efektivitas suatu program.
Konsep evaluasi model CIPP (Context, Input, Process and Product) pertama kali ditawarkan oleh Stufflebeam pada tahun 1965 sebagai hasil usahanya mengevaluasi ESEA (the Elementary and Secondary Education Act).
Landasan Filosofi dan Pendekatan Penelitian
Menurut Burhan (2012:56-57), dalam memilih masalah penelitian ada dua pertimbangan yang harus diperhatikan peneliti, yaitu: pertimbangan obyektif dan pertimbangan subyektif. Salah satu kriteria pertimbangan obyektif adalah masalah kebijakan kurikulum 2013 yang saat ini sedang diimplementasikan. Sedangkan salah satu kriteria pertimbangan subyektif adalah apakah masalah kebijakan kurikulum 2013 menjadi dilema dalam implementasinya,karena persiapan yang belum memadai.
Para ahli membagi pendekatan kualitatif dengan berbagai model. Creswell(2001:10) membagi penelitian kualitatif menjadi tujuh model, yaitu: Biography, Phenomenology, Grounded Theory, Ethnography, Etnomethodology, Hermeneutic, dan Case Study. Masing-masing model tersebut dirinci menjadi lima dimensi, yaitu: Focus, disipline origin, data collection, data analysis, dan naratif form. Lain halnya dengan pemikiran Creswell, dkk yang membagi penelitian kualitatif menjadi  tujuh model, Burhan (2011: 67-69) berdasarkan pengalamannya melakukan berbagai penelitian kualitatif, membagi penelitian kualitatif menjadi tiga model, yaitu format diskriptif, format verifikatif, dan formatgrounded theory. 1) format diskriptif dipengaruhi paradigma positivistik, meskipun paradigma fenomenologis masih dominan; 2) Format verifikatif bersifat induktif dan berparadigma fenomenologis, namun perlakuannya terhadap teori masih semi terbuka pada awal penelitian; 3) Format Grounded Theory bersifat induktif dan berparadigma fenomenologis dan tertutup terhadap teori pada awal penelitian. Meskipun begitu, Creswell dan Burhan  mempunyai persamaan dalam penggunaan istilah yang berbeda.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara yang di pilih oleh peneliti dalam menggali dan mencari atau menghimpun data di lapangan. Adapun data dan teknik yang dipilih oleh peneliti telah disesuaikan dengan sumber data dan jenis data yang dibutuhkan dalam penelitiannya. Oleh karena itu, untuk melakukan penggalian masing-masing jenis data membutuhkan metode pengumpulan data yang berbeda-beda.Sedangkan metode pengumpulan data yang telah digunakan oleh peneliti dalam rangka menjaring dan menghimpun data di lapangan.
Analisis Data.
Bogdan dan Biklen (1982), analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan: a) bekerja dengan data; b) mengorganisasikan data; c) memilah data menjadi satuan yang dapat dikelola; d) mensistensikannya; e) mencari dan menemukan pola; f) menemukan apa yang penting dan yang dipelajari; g) memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Secara khusus, analisis data dilakukan dengan menggunakan domain-taksonomik sebagaimana format analisis yang dicontohkan oleh Burhan (2014) sebagai berikut:
Gambar 3.1: Analisis Data Kualitatif-Verifikatif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *